Simak
kisah Satoshi, dan cari tahu, seperti apa pemecahan untuk macet Jakarta
yang ditawarkannya, melalui video saya kartun Jepang ini!
Liputan6.com, Tokyo -
Asia University, universitas dengan fokus Asia yang berbasis di
Musishino, Tokyo, mempromosikan jurusan Urban Innovation dengan cara
yang tak biasa, yakni dengan tayangan kartun gaya Jepang (anime) dengan durasi satu setengah menit.
Video yang disutradarai Yuu Mashimo ini berfokus pada tokoh Satoshi Sakurada, yang disuarakan oleh Subaru Kimura.
Satoshi merupakan lulusan jurusan Urban Innovation yang ditugaskan
untuk mengurangi kemacetan parah di Jakarta untuk perencanaan kota.
Latar belakang cerita ada di tahun 2025, menurut Anime News Network.
Kisah anime berfokus pada Satoshi Sakurada, lulusan jurusan Urban Innovation. (Asia University)
Kilas balik menceritakan Pemuda asal Jepang
ini berpikir mengenai pelajaran yang diterimanya saat kuliah, mengenai
data keseluruhan yang dikumpulkan dari GPS mobil, kamera keamanan, dan
lampu lalu lintas yang merupakan instrumen pereda kemacetan.
Tahun 2027, Satoshi berhasil menerapkan ide memasang kamera jalanan
di setiap sudut dan menggunakan data keseluruhan untuk memperbaiki waktu
lampu lalu lintas, mengerahkan arus kemacetan, dan mendesain jalan satu
arah pada jam-jam macet (rush hour).
Alhasil, jalanan Jakarta memiliki sistem monitor yang canggih.
Satoshi, yang bahagia dengan kesuksesannya, bermimpi untuk mengembangkan
sistem itu di seluruh Indonesia.
Kemudian, ia bertanya pada seorang temannya, Nozomi Hayakawa, yang
bekerja di Kuala Lumpur, mengenai penggunaan data keseluruhan di
pekerjaannya, sembari menikmati bir.
Jakarta berakhir memiliki sistem super canggih dalam monitor jalanan. (Asia University)
Nozomi juga tampil di video promosi Asia University lainnya.
Jurusan Urban Innovation di Asia University menekankan program studi
ini pada negara-negara Asia dengan ekonomi yang mengalami peningkatan,
seperti China, Thailand, dan Indonesia, dan mengaplikasikan solusi dari Jepang pada
masalah umum di asia seperti polusi, kemacetan, dan daerah-daerah
kumuh, dengan motto: "Membangun Kota yang Membuat Orang-orang Bahagia."